Pages

  • Home
  • Travel
  • Creativity
  • Review
  • PORTFOLIO

Ruang Sasa


Sempat booming beberapa waktu lalu, Crazy Rich Asians berhasil mengisi tempat dalam daftar film yang ramai diperbincangkan, nah kunjungan gue ke Singapura di pertengahan Oktober lalu, Chijmes menjadi salah satu lokasi yang gue kunjungi, apa yang menarik dari Chijmes ini? selain menjadi lokasi dimana Collin dan Araminta melangsungkan pernikahan, bangunan Chijmes-lah yang menjadi daya tarik utama, terutama bagi gue. lokasi Chijmes berada di Bugis, rasanya dari Victoria Street gak terlalu jauh.

Kawasan sekitar Chijmes ini menjadi salah satu kawasan favorit gue, karena berdekatan dengan Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) yang asik banget jalan di sekitar NAFA dan Bras Basah Complex, banyak art supply dan buku murah di Bras Basah, gue betah banget berlama - lama di sana. oke! lanjut ke Chijmes, di sini ada area outdoor dimana kita bisa bersantai, hayo yang suka rebahan acung tangan hahaha are outdoor Chijmes ini kalau malem lucu banget, buat santai tuh beneran asik, apalagi kalau malam banyak lampu-lampu di pohonnya kelap-kelip.


ini are outdoor Chijmes, rebahan-able bukan? dalam film Crazy Rich Asians memang yang terlihat hanya sekedar gereja, tapi Chijmes ini asik buat ditelusuri, apalagi kalau malam ada beberapa bar dan kafe yang buka, banyak juga turis yang nongkrong di sini, dan jangan tertipu dari tampilan depannya yang terlihat kecil ya teman-teman, karena kalau kalian masuk cukup luas dan seperti yang sudah gue tulis, asik buat ditelusuri.

serunya lagi, di area outdoor ini kalau weekend, kafe di sini mengadakan mini event gitu, misalnya story telling, atau nonton bareng, kafe di sini buka sampai sekitar jam empat pagi.

Chijmes : doc. ruang sasa

Tampak depan Chijmes, terlihat kecil kan? hahah kalian bisa masuk lewat gerbang utama atau gerbang samping yang lebih kecil, Chijmes ini tepat ada di perempatan posisinya, kalau naik bus bisa turun di halte Brash Basah.


Jadi bagaimana? Chijmes masuk daftar tempat yang bakal kalian kunjungi gak kalau ke Singapura? jangan lupa datang pas weekend, malam minggu misalnya, siapa tau lagi ada event.


11.16 No comments
Bahagia Bersama Air Asia

14 Oktober 2019 menjadi tanggal yang gue nantikan, pasalnya gue melakukan perjalanan solo pertama gue selama empat hari tiga malam di Singapura, meski bukan pertama kali gue menyambangi negara dengan sistem transportasi yang oke ini, tapi ini pertama kali-nya gue melakukan perjalanan seorang diri, bahkan segala persiapan gue lakukan sendiri sejak satu bulan sebelum keberangkatan. Dalam mempersiapkan perjalanan khususnya ke luar negeri, tiket pesawat menjadi hal krusial yang perlu dipikirkan, pilihan gue jatuh pada AirAsia, karena kebetulan Air Asia mengadakan promo 70%. Gue mendapatkan info promo ini dari akun resmi Air Asia di Twitter, melalui akun resmi ini gue rasa Air Asia sangat update, mulai dari tips dan trik sampai info promo.

Tampilan Aplikasi Air Asia

Masih melekat di pikiran gue, sekitar jam satu siang di commuter line arah Bogor, gue mencari penerbangan ke Singapura, tentunya masih dalam masa promo, gue mencari tanggal penerbangan melalui aplikasi Air Asia, gue mendapatkan harga rendah untuk keberangkatan 14 Oktober 2019 dan kepulangan 17 Oktober 2019, tanpa pikir Panjang gue langsung memesan penerbangan pada tanggal tersebut. Proses pemesanan melalui aplikasi ini sangat ringkas, metode pembayaran juga beragam, kebetulan saat itu gue menggunakan Visa, gak perlu waktu lama bahkan gue belum melewati satu stasiun, tapi e-ticket sudah bertengger di e-mail gue hahaha satu hal Bahagia Bersama Air Asia yang gue rasakan saat itu adalah mendapatkan harga murah untuk keberangkatan dalam waktu dekat, karena biasanya harga tiket murah bisa didapat ketika memesan penerbangan empat sampai dua bulan sebelumnya.

Karena tiket penerbangan sudah di tangan, gue mempersiapkan kebutuhan lain seperti hostel, dan simcard Singapura. Untuk perjalanan ini gue mengeluarkan uang bertahap, gak langsung mengeluarkan uang sekaligus, pertama gue beli tiket pesawat Air Asia, dilanjukan dengan memesan hostel, dan simcard Singapura, tapi sekitar dua minggu sebelum berangkat gue berpikir untuk buka jasa titip skincare dari Singapura, gue pun butuh bagasi untuk nampung barang-barang titipan, akhirnya gue memesan bagasi Air Asia 20kg untuk penerbangan pulang seharga Rp 204.000,-

Semakin dekat dengan keberangkatan gue ngerasa sangat antusias, setiap malam gue menulis apa aja makanan yang harus gue coba di sana, bakal kemana aja gue di sana, gue pun gak sabar untuk berkeliling pemukiman warga lokal di sana, ternyata begini rasanya merencanakan perjalanan solo, bebas ingin kemanapun dan mencoba apapun, bahkan gue sudah menyiapkan playlist untuk menemani perjalanan solo pertama gue, rasanya sudah siap banget nih gue Bahagia Bersama Air Asia haha


Hari yang gue tunggu pun tiba, gue tiba di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 4 pagi, gue download drama sambil nunggu boarding gate dibuka, kalian mau tau rasanya? Gue benar-benar bahagia, seperti yang gue bilang di awal tulisan, kunjungan ke Singapura ini bukan pertama kalinya bagi gue, beberapa kali gue mengunjungi negeri singa ini, tapi ini pertama kalinya gue sangat teramat antusias, karena gue akhirnya melakukan perjalanan seorang diri.

Gue tiba di Singapura sekitar jam 9, penerbangan gue tepat waktu, bahkan gak kerasa tiba-tiba sudah sampai, setibanya di Changi Airport Singapore, gue segera menuju ke Changi Meet and Greet Booth di T4 untuk mengambil simcard yang sudah gue pesan satu minggu sebelum tiba di Singapura, untuk mengaktivasi simcard sangat mudah, kalian cukup berikan paspor ke petugas, dan mereka akan mengaktivasikan menggunakan kode yang kita dapatkan saat melakukan booking di www.changirecommends.com, proses aktivasi pun sangat cepat, tidak sampai 2 menit simcard kita sudah aktif dengan kuota 100 GB. Booking simcard sebelum keberangkatan bisa menekan biaya, karena kalau beli simcard  di hari H, kita bakal merogoh kocek $12, tapi kalau booking sebelum keberangkatan kita cukup menghemat dan cukup mengeluarkan $9, lumayan kan?

Suasana menuju Marina Bay
Salah satu kuil di Little India
Karena gue tiba di Terminal 4, gue harus menuju ke Terminal 2 Changi untuk bisa menuju kota menggunakan MRT, cara dari T4 ke T2 adalah menggunakan shuttle bus yang terdapat di Arrival Hall, bus ini tiba setiap 10 menit. Sampai di T2 gue tidak keliling Changi atau ke Jewel, gue langsung melipir ke kiri menuju eskalator turun, gue langsung ke stasiun MRT karena gue gak sabar untuk segera berkeliling.

Mulai dari hari pertama hingga detik-detik gue menuju Changi Airport untuk pulang ke Jakarta, gue gak pernah berhenti senyum, rasa-nya bener bener sebahagia itu perjalanan solo pertama gue, gak sekali dua kali juga gue melakukan hal memalukan, gak sekali dua kali juga gue duduk cukup lama di halte untuk memperhatikan aktifitas orang-orang, rasanya perjalanan ini merupakan me time terbaik yang gue lakukan, meskipun bisa dibilang kalau gue nekat karena segalanya gue siapkan satu bulan, di mana dalam waktu sesingkat itu resiko yang gue dapatkan adalah harga yang tinggi, mulai dari penerbangan, hostel, dan waktu nabung untuk biaya hidup yang minim, tapi ….. gue melakukannya!

Selama empat hari gue berkeliling Singapura, Kawasan yang sangat gue suka Tiong Bahru, ini kali kedua gue berkeliling Tiong Bahru, Kawasan ini cukup tenang, ada toko-toko lucu, banyak juga warga lokal yang mengajak jalan anjingnya, yang pulang ke rumah dengan bawa barang belanja-nya pun ada. Rasanya seperti dibunuh waktu, tiba-tiba sudah tanggal 17 aja, yang artinya gue harus pulang :’)

Suasana di Tiong Bahru

Rumah di kawasan Tiong Bahru

Toko pernak-pernik di Tiong Bahru

17 Oktober 2019 tepatnya jam sembilan pagi, gue check-out dan kembali memanfaatkan waktu yang ada untuk berkeliling menggunakan bus, daripada MRT gue lebih menikmati keliling kota menggunakan bus, dan memperhatikan setiap sisi yang dilewati, rasanya ingin merekam setiap momen dan tempat di pikiran gue, asik berkeliling gue kembali ke kawasan Tiong Bahru untuk ngerasain lagi suasana tenang di Tiong Bahru, karena gue yakin akan sangat merindukan Kawasan yang tenang ini. Usai menikmati kawasan ini gue bergegas menuju bandara Changi tepatnya Terminal 4, gue menunggu pesawat Air Asia di G2 Terminal 4 Changi Airport, bahkan menunggu pun terasa bahagia karena gue melakukan perjalanan yang memang gue impikan, gue memang sejak lama ingin melakukan perjalanan seorang diri, sambil menunggu, gue mengisi journal kesayangan gue, gue selalu menulis hal berkesan di journal gue.


Di perjalanan pulang gue merasa lapar, dan memutuskan untuk beli salah satu inflight meal Air Asia, nasi padang, karena kondisi perut yang memang lapar, gue gak ekspetasi dengan menu-nya, gue berpikir mungkin akan sama aja dengan frozen food yang dihangatkan, tapi begitu pesanan gue tiba, rasanya enak, rendang-nya sangat empuk, bahkan pakai sendok plastik pun gue bisa motong rendangnya gampang banget, begitulah perjalanan gue, ditutup dengan empuk-nya rendang di menu inflight meal Air Asia.



Perjalanan ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan bagi gue, mulai dari persiapan, keberangkatan, hingga kepulangan. Semuanya juga dipermudah dengan adanya aplikasi Air Asia, gue melakukan segalanya dalam genggaman, benar-benar dipermudah, gue sudah melakukan perjalanan Bahagia BersamaAir Asia, kalian kapan Bahagia Bersama Air Asia?






Jangan sampai ketinggalan info seru dan promo dari Air Asia ya!
#BahagiaBersamaAirAsia
Twitter https://twitter.com/AirAsia_indo
Instagram https://www.instagram.com/airasia_bhsindonesia/




04.27 2 comments
What I Eat While Solo Travel

14 Oktober 2019 menjadi hal yang sangat gue nantikan, dengan bermodalkan nekat alias punya uang ngepas, gue berangkat untuk melakukan perjalanan solo pertama gue, atau biasa sih orang nyebutnya solo traveling. This is my first ever solo traveling, destinasi yang gue pilih adalah Singapura, kenapa? simpelnya karena gue sudah cukup tau bagaimana cara menyiasati biaya hidup di negara ini, karena ini dapat dikatakan kali ke-lima gue menyambangi negara ini, tapi ini pertama kali-nya gue melakukan perjalana ke Singapura sendiri.

detail perjalanan tidak akan gue bahasa dalam postingan ini, karena pastinya akan menjadi tulisan yang sangat panjang, jadi dalam tulisan kali ini gue hanya akan membahas makanan apa saja yang gue beli selama perjalanan gue, belinya dimana, dan harganya berapa. gue berharap tulisan ini bisa jadi referensi untuk kalian yang ingin berkunjung ke Singapura.


DAY 1 (14 Oktober 2019)


Hari pertama, gue tiba di bandara Changi sekitar jam 11 siang, gue langsung ambil simcard dan menuju ke pusat kota, hari pertama gue dibuka dengan Milo Ice seharga $1.7 di kafe kecil sekitar Little India bernama Chin Shin Huan, gue gak sengaja lewat kafe kecil ini, tertarik dengan tulisan sejarah si kafe di dinding, gue pun masuk dan beli Milo Ice-nya, bedanya dengan minuman milo di Indonesia, di sini lebih terasa.


Lanjut, sekitar jam 18.00 PM, gue keliling kawasan Orchard, lalu melipir ke 7-11 dan beli biryani seharga $3.90 ini, kebetulan gue jarang beli air mineral, karena gue selalu ngisi botol minum gue pas di hostel, lumayan hemat haha


DAY 2 (15 Oktober 2019)


Hari ke-dua, gue cukup impulsif untuk makanan, karena beberapa kali jajan dan gak tau kenapa bawaannya laper teruuss, gue hampir menghabiskan $20 hanya untuk makanan, dan itu jauh diatas batas budget harian yang sudah gue tetapkan.


padahal jam 10.00 AM itu gue makan di Subway Sandwich dengan porsi yang besar, tapi jam 13.00 PM gue melipir ke Long John Silver's dan mendadak pesen dori fish rice-nya seharga $9 something, gue lupa tepatnya berapa tapi intinya sekitar $9.


Nah! ini gue beli mulanya karena kemasanya kok eye-catching sekali, pemilihan warna cocok, dan font-nya pas, jiwa designer gue mendadak muncul hahaha, beli dengan harga $2 di Daiso Tiong Bahru Plaza, gue pikir rasanya bakal biasa aja, kaya minuman kemasan pada umumnya, tapi ternyata enak :( 


Sekitar jam 16.00 PM, gue ke Toast Box di kawasan Lavender, sebenarnya ke sini bukan karena lapar atau haus, tapi kangen sama suasana di Lavender, di sini gue beli milo ice dengan harga $2 something, dengan rasa yang sama dengan Chin Sin Huan, kayanya gue lebih milih Chin Sin Huan  karena lebih murah hehe

DAY 3 (16 Oktober 2019)



Hari ke-tiga diawali dengan gyoza Old Changkee, lalu makan siang di 7-11 dengan curry rice seharga $3.90 dan Soya Milk seharga $1.40, gue beli Soya Milk karena lebih murah dari Aqua yang harganya $2.20 hahaha, gak se-impulsif  kemarin, seingat gue sih di hari ke-tiga gue bahkan gak menghabiskan $10 untuk makan.

DAY 4 (17 Oktober 2019)




Gue beli laksa di 328 Katong Laksa, dari awal emang sudah niat mau makan ini, tapi baru inget di hari terakhir karena keasikan eksplore pemukiman warga lokal :'), 328 Katong Laksa ini aslii enak bangett, sedikit berasa kari, porsinya banyak, enak, gak salah kalo ter-tempel sticker Michelin Guide Singapore di toko-nya.

selama 4 hari gue melakukan solo traveling, gak banyak makanan yang bisa gue coba karena selain budget yang ngepas, gue juga lupa karena ke-asikan keliling kawasan warga lokal hahahah, tapi dari tulisan ini bisa disimpulkan kalau kalian pegang $50 untuk budget makan selama 4 hari itu sangat mungkin, tentunya ini hanya budget untuk makan, masih ada kebutuhan lain seperti top-up Ezlink, simcard, dan biaya tak terduga yang perlu disiapkan.

Thanks for your time to read my story!
07.36 No comments
tampak depan Toast Box : doc ruang sasa

Finally! Toast Box hadir lebih dekat dengan akses yang jauh lebih mudah tentunya karena gak jauh dari rumah gue. jadi, Toast Box itu semacam kopitiam yang menunya adalah breakfast menu ala Singaporean (sebutan untuk warga singapore). ketika berkunjung ke Singapore, Toast Box salah satu kedai favorit gue! tentu menjadi favorit gue karena harganya yang murah dan toast-nya yang enak, seriusan gue cinta banget sama traditional toast butter-nya!

Gue akan membahas harga, interior, dan toast-nya, gue gak akan bahas kopinya. fyi gue gak bisa dan kurang suka kopi, jadi percuma bahas kopi karena semua kopi di lidah gue bakal sama aja hahaha.
gue membandingkan interior antara Toast Box di Singapore dengan di Gandaria City ini, sama-sama didominasi warna putih dan lampu yang super terang, untuk tampilan desain pada lembar menu-nya pun sama, tapi Toast Box Gandaria City terlalu fancy jika dibandingkan dengan yang di Singapore, bahkan ada dry flower sebagai hiasan di setiap meja. jadi kesan sederhana kopitiamnya gak terlalu berasa di gue hehehe, tapi tampilan interior fancy seperti ini kayanya sudah disesuaikan ya dengan masyarakat kita yang selesai makan ya ngobrol dan leha-leha dulu, jadi dibikin nyaman dengan tampilan interior yang cantik.

tampilan interior: doc ruang sasa
hiasan pada setiap meja di Toast Box


Pada meja order menu ada wall decor bungkus kopi yang menurut gue cantik banget, warna soft disesuaikan banget sama interiornya, semua dekorasi terlihat serasi. mejanya marmer putih dengan garis halus abu-abu, sangat cantik! tapi, untuk suasana gue jauh lebih suka Toast Box Singapore karena jauh lebih sederhana. untuk harga sama ya! harga kopi dan toast-nya sama, tapi karena di Indonesia nol-nya banyak, rasanya bagi gue untuk toastnya cukup pricey hehehe.

wall decor di Toast Box Gandaria City
daftar menu Toast Box Indonesia
Gue pesen Traditional Toast Butter Sugar, butiran gula di butter-nya gak sehalus yang biasanya gue pesen di Toast Box SG, tapi rasa toast-nya sama, sama-sama enak! hehe porsi-nya juga sama! sama-sama dikit wkwkwk garing-nya pas, dan butter-nya meleleh di mulut, gak ngerti ini enak banget! kalo gue ketemu peri yang bisa ngasih satu aja permintaan, gue mau minta porsi toast yang dijual Toast Box lebih banyak :( karena seenak itu sih.

traditional toast butter sugar Toast Box Indonesia


TERIMA KASIH SUDAH BACA!


04.10 No comments

Judulnya gak bohong sama sekali kok, gue sangat suka kawasan Tiong Bahru ini, saking sukanya gue mampir ke Tiong Bahru ini sebelum pulang. jadi, liburan kemarin itu gue gak mengunjungi area populer Chinatown, Orchard Road, bahkan Merlion Park pun gak gue sambangi. gue bener-bener keliling kawasan yang masih sepi wisatawan, salah satunya si Tiong Bahru ini.
kalo mau liat gambarnya lebih jelas, klik gambarnya aja ya!





Tiong Bahru ini merupakan pemukiman tertua di Singapura loh! dulunya kawasan ini tuh jadi tanah pemakaman, makanya dinamakan Tiong Bahru, Tiong adalah dialek hokian tionghoa yang artinya pemakaman, nah kalo Bahru itu diambil dari bahasa melayu yang artinya baru. tapi kawasan ini terus berkembang sejak tahun 1930 sampai sekarang menjadi salah satu kawasan trendi di Singapura, banyak kafe unik, toko roti, toko buku dan tempat yoga disini. 
meskipun banyak kafe tapi gak bikin kawasan ini rame loh, kawasan ini tetep tenang, damai, dan kehidupan yang gue saksikan disini bener-bener kehidupan warga lokal, gak rame sama wisatawan.
kawasan ini juga terasa banget seninya menurut gue, karena memang Tiong Bahru merupakan salah satu kawasan seni, banyak banget mural yang menggambarkan kehidupan warga lokal singapura.

Kawasan ini didominasi bangunan berwarna putih, bangunannya kuno dan rapi, bersih pula. waktu gue keliling Tiong Bahru ini gue dengerin lagu Little Glee Monster yang judulnya Suki da, gue jadi berasa lagi di Jepang haha.
oh iya, flat disini tangganya ada diluar bangunan dan bentuk tangganya spiral, kaya tangga kostan Mona, kayanya kostan mona terinspirasi dari bangunan di Tiong Bahru ini, pasti pada bingung Mona siapa, Mona tuh yang tangga kostan-nya spiral hahaha
Btw, Mona kalo nyanyi suaranya bagus!










sebenernya muralnya ada lagi, tapi gak gue foto karena keasyikan nikmati suasana di sini, di tengah dinamisnya negara Singapura, Tiong Bahru justru pede banget dengan ketenangannya. gue bener-bener suka banget tempat ini, banyak juga loh toko-toko unik di Tiong Bahru ini, di Yong Siak Street ada tempat yang bagi gue menarik banget, yaitu toko buku Woods In The Books dan Books Actually.

Woods In The Books merupakan toko yang menjual buku-buku anak, banyak banget artbook disini, bahkan gue liat buku karyanya Gemma Correll, salah satu illustrator favorit gue. gue sempet mau beli bukunya, tapi karena gak punya duit yaudahlah lain kali aja, sempet geregetan sih, mau ambil bukunya Gemma Correll ini tapi ntar gue gak makan haha
terus, Books Actually merupakan toko buku independen yang didirikan sama Mr. Kenny Leck, gue memang udah ngincer Books Actually ini sebelum keberangkatan, koleksi bukunya banyak!







Diujung Books Actually ini ada ruangan kecil yang isinya barang-barang antik, ada postcard dan zine juga loh! gue sangat interest sama toko buku ini, suasananya gak kalah tenang sama suasana Tiong Bahrunya, klop banget!
kisaran harga buku-buku dimulai dari $8 - $150, kalo postcard dijual dengan harga $3
ada note buatan Books Actually juga harganya $10




Icon Singapura seperti Merlion Park dan Orchard Road bahkan Sentosa Island menurut gue gak bisa ngalahin suasana di Tiong Bahru. Intinya, Sasa Suka Tiong Bahru.




Tonton video gue tentang Tiong Bahru disini yaaaaa!!

06.02 No comments
Older Posts

Popular Posts

  • Personal Note 3 : Drama Ucapan Terimakasih di Skripsi
  • Drawing in Quarantine
  • Intip Lokasi Syuting Crazy Rich Asians
  • Sepotong Perjalanan Bahagia Bersama Air Asia
  • What I Eat While Solo Traveling

Tamu

Created with by ThemeXpose